Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/sman6bjm/public_html/functions/fungsi_kalender.php on line 101
Selamat Datang di Website SMA Negeri 6 Banjarmasin
Login Member
Username:
Password :
Link Web
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Biasa saja
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 133086 visitors
  Hits : 165 hits
  Today : 34 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

tikno_pgg@yahoo.com    
Agenda
21 October 2017
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Pendidikan Yang Memberdayakan Peserta Didik

Tanggal : 26-11-2016 10:15, dibaca 116 kali.

Ivan Illich salah satu ahli pendidikan pernah mengatakan bahwa sekolah seperti sebuah penjara. Penjara memiliki aturan yang prosedural dan ketat, demikian juga di sekolah, anak harus mengikuti seluruh aturan sekolah seperti datang tepat waktu dan pulang setelah jam pelajaran selesai. Banyak guru yang menuntut anak menguasai seluruh materi pelajaran sesuai tuntutan kurikulum. Bakat dan minat anak tidak diberi ruang untuk dapat berkembang optimal, sehingga mengakibatkan kreativitas anak terpenjarakan. Di dalam kelas anak harus duduk manis dan selalu mendengarkan penjelasan guru, sehingga tidak  boleh bermain secara bebas, akibatnya kegembiraan dan keceriaan anak di dalam kelas terkungkung dan dibatasi oleh dinding dan sekat fisik bangunan sekolah. Guru dengan segala kewenangannya siap menghukum peserta didik yang melanggar aturan sekolah.

Pendidikan yang memberdayakan dengan menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan belum mampu sepenuhnya diterapkan oleh guru. Masih banyak guru yang kaku dalam mengaplikasikan metode pembelajaran yang praktis, aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), karena mereka sejak berlatih mengajar dalam lingkup micro teaching selalu diajarkan metode mengajar yang teacher centered bukan student centered.

Pembelajaran yang memberdayakan dan berpusat pada peserta didik yang selama ini digariskan dalam kurikulum, tampaknya mati suri di tangan guru, karena guru kurang menguasai berbagai metode mengajar efektif yang inovatif. Kelemahan ini disebabkan oleh banyak faktor. Pertama, guru dituntut menyelesaikan tuntutan kurikulum, sehingga seluruh waktu yang tersedia digunakan untuk menghabiskan materi kurikulum yang jumlahnya sangat banyak, dan terkadang tidak sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Kedua, guru tidak mempunyai waktu  yang cukup untuk membuat media pembelajaran inovatif, karena banyaknya jam mengajar (24 jam/minggu) yang harus dipegang oleh guru sebagaimana tuntutan tunjangan profesi. Ketiga, masih rendahnya motivasi guru untuk mengembangkan diri mempelajari berbagai metode pembelajaran menyenangkan yang telah diperoleh saat kuliah, penataran, lokakarya, dan berbagai pelatihan lainnya, akibatnya guru hanya menguasai metode mengajar CTD (ceramah, diskusi, dan tanya jawab). Metode mengajar yang lain yang menyenangkan, mampu menggerakkan partisipasi peserta didik di kelas, dan mampu menggugah kreativitas peserta didik menjadi mandul. Keempat, banyak guru yang mengajar di kelas akhir hanya fokus pada persipan ujian nasional (UN), sehingga tidak peduli dengan berbagai metode pembelajaran yang mampu memberdayakan peserta didik. Setiap hari anak di drill dengan bank soal untuk menghadapi UN agar memperoleh hasil yang optimal. Bahkan untuk menghadapi UN banyak sekolah yang secara terselubung diam-diam mengurangi jam pelajaran bahkan meniadakan materi mata pelajaran “tidak penting” yang tidak di UN-kan. Di sisi lain, banyak peserta didik yang sore hari sibuk mengikuti les di dalam dan luar sekolah dalam rangka menghadapi UN dan ujian masuk perguruan tinggi.

Seluruh uraian di atas meneguhkan pendapat Paulo Freire, bahwa sekolah menjadi jamu yang memabukkan anak. Anak secara tidak sadar dibuat mabuk dengan berbagai materi pelajaran, mabuk mengerjakan tugas, mabuk menyiapkan materi UN, mabuk menyiapkan ujian masuk PTN. Dalam perspektif sosiologi, kondisi ini disebut sebagai hegemoni sekolah atas peserta didik, karena peserta didik dengan ikhlas mengorbankan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menjadi “kutu buku”. Mereka juga harus ikhlas mengorbankan kebebasannya, kreativitasnya, demi iming-iming masa depan. Sementara itu, peserta didik sendiri pada dasarnya tahu bahwa pembelengguan atas dirinya sangat tidak mengenakkan dan sangat membosankan.

Kita perlu melakukan upaya-upaya untuk memberdayakan peserta didik demi menyiapkan generasi yang handal. Pertama, dalam konteks pembelajaran di kelas guru perlu memberdayakan seluruh sumber belajar yang ada dengan cara membuang jauh konsep “bejana kosong” dalam arti peserta didik tidak memiliki bekal ajar sama sekali. Dalam konsep ini, guru bukan lagi sebagai satu-satu sumber belajar yang akan mengisi relung-relung jernih kognitif peserta didik. Sumber belajar jumlahnya sangat banyak, dan guru bisa berperan hanya sebagai fasilitator yang memberi arahan kepada peserta didik untuk mengakses seluruh sumber belajar yang tersedia. Bila hal ini dapat diwujudkan, tidak mustahil keceriaan semu anak, benar-benar bisa menjadi kebahagiaan hakiki. Selain itu, tidak terjadi duplikasi kepribadian guru kepada peserta didik, karena peserta didik sebagai manusia unik yang bisa menjadi apa saja, dimana saja, dan kapan saja.

Kedua, memberdayakan lingkungan sekolah yang alami dengan mengubah konsep sekolah bukan sebagai bangunan mengerikan berpagar beton, berbalut kawat berduri, dijaga satpam, dimonitor dengan CCTV, berpintu gerbang besi bergembok besar. Sekolah merupakan areal alam yang setiap saat   peserta didik leluasa out bond, bebas berekspresi, ceria, tidak membelenggu, tidak membosankan, memberi banyak inspirasi, menggugah kreativitas, wahana produktivitas, lepas dari berbagai hukuman karena aturan dibuat dan disepakati bersama.

Ketiga, menghilangkan kesan school phobia. Sekolah bukan lagi laksana monster yang menyeramkan. Sekolah bukan lagi tempat pemasungan kreativitas anak. Guru tidak lagi menduduki tahta yang bisa menindas peserta didik. Peserta didiklah yang menduduki tahka kekuasaan yang bebas memilih jenis aktivitas yang sesuai dengan minat, bakat, dan hobby mereka. Inti pembelajaran berpusat pada peserta didik sesungguhnya adalah, peserta didik yang menentukan cara belajar terhadap materi pelajaran, sumber belajar yang digunakan, tempat belajar, media belajar yang digunakan, sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Dalam konteks ini peran guru sebagai fasilitator, moderator, dan motivator untuk menjamin terlaksananya pembelajaran yang menyenangkan dan mampu menginspirasi peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat, kreatif, dan inovatif.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas